December 27, 2007

Low risk investment (is it??)

Posted in Uncategorized at 9:56 am by prabandana

Banyak kritikan untuk temen2 yang kuliah dan stay di luar negeri yang pada umumnya bertemakan “dimanakah semangat membangun negeri dari anak2 terbaik kita itu??”. Setelah setahun saya disini, ternyata jawabannya tidak sederhana yang dikira karena ada banyak hal yang membuat mereka harus stay (baik yg berpikiran temporary ato permanent). Tapi for sure, sebagian besardari mereka pasti ada keinginan balik ke Indonesia dan syukur2 masih bisa mengaplikasikan apa yang mereka dapat bertahun tahun disini. Kalaupun teman-teman kita ini pulang ke indonesia, ada dua pilihan untuk mereka: bekerja dan atau membuka usaha di indonesia. Memang ada opsi lain, tapi pada umumnya dua opsi inilah yang paling banyak ada saat ini.

Mahasiswa lulusan jepang pada umumnya bertipe researcher sejati karena mereka dididik untuk itu. Researcher disini bukan melulu masalah teknologi tentunya. Tambahan lagi, jepang masih sangat kental dengan semua yang serba teratur dan punya pattern of how doing what..Dan menurut pendapat saya,ini sedikit banyak membuat teman2 saya disini menjadi orang yang mengurangi resiko semampu mungkin dan menjauhi masalah.

Dibandingkan lulusan dari negara maju lainnya, teman-teman disini lebih bertipekan hard worker yang handal, fair, “penurut”, dan ndak neko-neko. Mudah dipahami bahwa menjadi karyawan/researcher di Jepang menjadi pilihan tentunya yang jauh lebih logis bagi mereka daripada kembali ke indonesia tanpa adanya kepastian bahwa sebuah company X atau instansi Y bersedia menerima mereka berikut keahlian dan “kompensasinya”. Nah masalahnya, kalau kita paham pola pikir orang jepang yang banyak memberi corak ke mahasiswanya, berat juga untuk teman-teman disini mengambil sedikit resiko dengan pulang ke indonesia karena sudah terlanjur masuk “zona aman”.

Saya lebih suka membicarakan hal lain, yaitu besar kecilnya peluang teman-teman di jepang ini memulai usaha di indonesia. Why? karena saya yakin, mereka yang sudah bekerja beberapa tahun saja pasti memiliki dana yang cukup besar untuk berwirausaha. Bahkan, teman yang mendapat beasiswa tetap (Monbusho, Mitsui, etc) pun saya yakin mempunyai sisihan beasiswa yang jauh lebih besar bila dibandingkan mahasiswa di indonesia yang baru lulus. Intinya, secara finansial teman-teman disini punya potensi untuk berwirausaha.

Tetapi kita semua tahu bahwa entrepreneurship tidaklah semudah kita  mencari perbedaan di kuis “serupa tapi tak sama” yang ada di majalah Bobo atau sejenisnya.. Entrepreneurship butuh passion dan tangan dingin seorang Panigoro yang telah membesarkan Medco, kerja keras tangan Sukyatno yang mempopulerkan EsTeler77, atau keuletan rekan saya KiKi yang mulai melebarkan sayap mangrove.

Sayangnya, ada beberapa hal yang banyak menurut pendapat saya menghambat rekan-rekan di Jepang ini untuk berwirausaha:
1. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, orang orang yang lama tinggal di jepang telah terbentuk karakternya sebagai researcher dan harworker yang handal, tapi kurang luwes dan kurang berani mengambil resiko bila dibandingkan lulusan atau yang berdomisili di negara lain.
2. They ve been abroad for damn long time, khususnya yang mulai studi di jepang sejak lulus SMU. Mereka blind tentang kondisi di Indonesia, how we are doing business in Indonesia, hal apa yang kira-kira berpeluang dijadikan ceruk usaha, dsb.
3. Bagaimanapun harus diakui bahwa teman-teman disini relatif kurang punya akses dan kolega yang cukup di indonesia, dibandingkan dengan mahasiswa yang belajar di indonesia (lagi lagi khususnya yang memulai studi sejak S1). Satu-satunya akses rekan-rekan di jepang adalah sesama rekan yang kuliah di jepang dan telah kembali ke indonesia, atau teman2 semasa SMU.

Dari tiga hal ini saja kita sudah bisa paham bahwa memulai usaha di indonesia cukup beresiko untuk rekan-rekan di jepang. Memang banyak cerita bahwa untuk menjadi pengusaha, kita harus bisa ambil lompatan besar beserta segala resikonya. tentunya, banyak pula cerita sukses dari orang-orang hebat macam ini. Meski demikian, banyak pula bad ending untuk mereka yang belum beruntung dan kurang punya passion disini.

Saya berani bilang, lompatan besar macam ini kurang cocok dengan sebagian besar karakter teman-teman di Jepang sini, dengan segala alasan sebelumnya. Jadi, lebih baik kalau mereka sebesar mungkin mengurangi resiko dan memulai pelan-pelan. Memutuskan untuk pulang ke indonesia tanpa persiapan dan memulai usaha dari nol(bagi yang ingin berwirausaha) sama halnya dengan masuk rimba dengan bekal makanan yang cukup, tapi tanpa kompas dan map. Pada akhirnya makanan habis dan tak bisa keluar dari rimba dengan selamat.

Sekedar urun rembug tanpa bermaksud menggurui (karena saya juga hanya orang yang pengen belajar saja), ada beberapa cara yang menurut saya bisa dipertimbangkan.

pertama, kita bisa memulai usaha dengan bermitra dengan pewirausaha lokal yang sudah running usahanya. Kita bisa masuk dengan menambah omzet atau pemodalan untuk meningkatkan revenue usaha tersebut. Sedapat mungkin, pewirausaha lokal tersebut adalah orang terpercaya yang telah kita kenal baik. Kita bisa mendapat pembagian keuntungan, dan bila kita masuk ke strukturnya, kita bisa belajar secara gratis.   Hal seperti ini tidak terlalu banyak beresiko, dan dalam skala besar sudah umum dilakukan oleh perusahaan. Dengan mengambil analogi brand trading, kita mimages.jpgasih ingat ketika Unilever lebih memilih mengurangi resiko dengan membeli merek Buavita, Kecap Bango, dan Taro yang ditangannya menjadi produk unggulan di divisi food n beverage. Danone juga membeli merek Aqua beberapa tahun silam. Bagi mereka, membeli merek yang sudah “aman” jauh lebih baik daripada membuat produk baru (yang tentu bisa mereka lakukan) dari nol yang untuk brand positioningnya butuh biaya tinggi, dan belum tentu sukses.
kedua, franchising bisa menjadi pilihan yang bagus untuk starting. Dengan franchising, resiko terkurangi karena manajemen induknya sudah siap dan ketersediaan bahan baku yang terjamin. Hanya memang, selain biaya franchise yang tinggi, pola ini mungkin kurang cocok dengan mereka yang berjiwa ekonomi kerakyatan mengingat pola franchise banyak menghancurkan ekonomi lokal karena modal manajemen induk yang besar sehingga memangkas harga pokok.

ketiga, menggandeng rekan yang memiliki plan baru.Usaha yang baru dan dari nol bukan sesuatu yang ditabukan bila rekan kita ini memang punya reputasi yang baik, apalagi sudah punya pengalaman di bidang wirausaha. Hal ini seperti yang dilakukan Versatile Silicon yang digawangi Dr. Trio Adiono, dosen Elekto ITB dengan Pak Eko, Wiraswastawan indonesia yang sukses di Jepang. Dr.Trio sudah memiliki reputasi yang sangat baik dan memasok design VLSI ke semicon comp di jepang. Ditambah lagi, beberapa orang yang bergabung disana cukup qualified dengan menjuarai LSI design contest di fukuoka.

keempat, investasi dengan pembelian properti tidak bergerak, seperti tanah, rumah, pembuatan rumah kost , dsb. Semakin jeli kita, semakin bagus hasil yang bisa didapatkan dari kenaikan harga properti. Kalaupun kurang bisa menghasilkan keuntungan, yang jelas investasi macam ini tidak beresiko. Tetapi memang, usaha semacam ini kurang memberi manfaat dan penghidupan untuk orang lain.

Tentu saja,  di atas segalanya, resiko bukan hal yang tak bisa dihindari, sehebat mungkin kita memanagenya. Saya masih ingat ketika saya musti rugi ketika berjualan spring bed untuk anak-anak mahasiswa baru. Padahal, kalaupun dipikir logis, harusnya waktu itu momen yang paling bagus karena sebagian besar, anak baru yang datang ke bandung belum tahu daerah mana yang bisa menjual spring bed dan perlengkapan kos dengan murah (karena jauh). mereka tidak mungkin menunggu satu minggu dengan tidur di lantai kamar yang kosong karena nyari2 perlengkapan kos ke sekeliling bandung (mereka anak baru yang belum tahu Bandung). Tetapi, karena kurang perencanaan dan hubungan yang belum begitu baik dengan grosirnya, singkat cerita resiko pun datang dan untungya saya stop sebelum rugi terlalu banyak, he3.. Intinya, seperti yang telah dicetakkan oleh worklife di negara ini, resiko pasti ada, hanya bagaimana kita memperkecilnya.

Demikianlah, wish us all the best..

Advertisements

December 8, 2007

Your score, please ??

Posted in Uncategorized at 3:58 pm by prabandana

Its been 1 week since my second Japanese Language Proficiency Test. Taking the level two was really so tiring for me, a full time (umm, for most of the days are more than full time) employee with only a 2 hours per week japanese class. Most of the JLPT fellows know very well that the preparation(time,material, energy) you need for upgrading the level from lev 4 to lev 3 is far from enough to cover the gap between lev 3 and lev 2.. (JLPT has 4 level, of which level 1 is the highest one..).. dont ask me about the result OK?.. hahaha.. it will come knock my door in the middle of february, and cannot hope so much for it.

One day, when i felt so tired and still have a bunch of homework from the teacher to catchup the material within 2 months, I just ask my self, how come they have such proficiency test?? Undoubtedly, English is the you-must-know language all around the world, and as a non-native speaker, such test like TOEFL or TOEIC is much more reasonable to take.. But japanese? the one use japanese are only they who are living in Japan..You need the test since you have to master the language so that you get live there, study there, something that you cannot get unless you master the language.. (i mean its not mandatory for you to pass the test if you don’t really need to)..

Everyone know the country of which the language got a proficiency standard must have “something” make us put our soul in the front line to master the language. Japan has so such”something”, lets say technology, science, culture,live, attract so many people to get those “something”. The bad news is.. Basically, japan has been so strong from the “knowledge share”point of view. I can say, you can get every books you need no matter your interest, all provided in japanese.. The economy has also been quite good that they can stand and run by themselves.Although its true that there are some fundamental reason for japaneese can hardly learn english or other language, I can say that for now, its not so urgent for japanese to learn english,lets say.. Thats why, once someone decide to get something from japan, japaneese is a must.

I dont know exactly which country have the language proficiency standard, but basically, the more poeple need it, the more popular the test, which is with the same analogy, the need of a language proficiency test somehow show the strength of a country. I will agree that if there are two most important language in the world, they will be English and chinese.

Then, i just look at my self when one day, someone ask me, how many languages i master natively. Ah, yeah we master two : Javanese and Indonesia, hahaha.. he said “whoo great, so you can speak 2 natively, and now English and japanese?? ” But so sad, none of the two are listed in the most used language for international commmunication, not like a chinese singaporean who even cry in chinese laugh in English since they were baby..

Hahaha. no problem, i really believe someday Indonesia will be much better, when the ILPT (Indonesia Language Proficiency Test) is a must, Indonesia language courses will be a good business to run, and when so many books of the test preparation load the bookstore shelves.. hmmm..